03 Kecepatan Kepadatan Dan Arus Lalu Lintas
NAMA :
RIYAN ASRIF AZIMIN
NPM :
17 630 090
KECEPATAN
KEPADATAN, ARUS LALU LINTAS
2.1. Parameter
Arus Lalu Lintas
Parameter lalu
lintas adalah suatu ukuran yang digunakan sebagai tolak ukur dari kegiatan lalu
lintas. Arus lalu lintas terjadi karena adanya mobilisasi dari manusia
ataupun barang. Hal ini terjadi karena adanya kepentingan kebutuhan dari
manusia yang tidak dapat terpenuhi hanya di tempat itu. Mobilitas ini
menyebabkan adanya konflik di jalan. Setiap orang menginginkan akses yang baik
yang dapat menunjang mobolitasnya.
Dalam bab ini akan diuraikan parameter
yang mempengaruhi lalu lintas itu sendiri, yaitu arus (flow),
kecepatan (speed), dan kerapatan (density).
2.1.1. Arus (flow)
Arus adalah jumlah kendaraan yang
melintas ruas jalan pada waktu tertentu (pendek) dengan membedakan arah dan
lajur yang dinyatakan dalam smp/ waktu atau kendaraan/ waktu.
Elemen-elemen Arus Lalu Lintas terdiri
dari karakteristik pemakai jalan, yang termasuk di dalamnya yaitu; penglihatan
dari seorang pengendara, waktu persepsi dan reaksi serta karakteristik lain
yang dimiliki oleh seorang pengendara. Yang kedua adalah kendaraan itu sendiri,
yang termasuk di dalamnya yaitu; kendaraan rencana, kinerja percepatan
kendaraan, kemampuan mengerem kendaraan, dan persamaan jarak mengerem dan
reaksi. Serta yang ketiga adalah jalan menurut klasifikasi dan ciri geometrik
jalan itu sendiri.
Karakteristik arus lalu lintas dapat
dijabarkan dalam bebagai variasi, diantaranya variasi arus dalam waktu yang
meliputi; variasi arus lalu lintas bulanan, variasi arus lalu lintas harian,
variasi arus lalu lintas jam-jaman, variasi arus lalu lintas kurang dari satu
jam, volume jam perancangan, dan volume perancangan menurut arah. Kemudian
variasi arus dalam ruang dan variasi arus terhadap jenis kendaraan.
2.12. Kecepatan (speed)
Kecepaan didefinisikan sebagai tingkat
gerakan di dalam suatu jarak tertentu dalam satu satuan waktu, yang dinyatakan
dengan rumus
V = Kesalahan! Nama
file tidak ditentukan.
Dengan,
V =
kecepatan (km/jam)
d =
Jarak perjalanan (km)
t =
waktu perjalanan (jam)
Dalam suatu pergerakan kecepatan dari
setiap kendaraan tidak mungkin akan sama, hal ini disebabkan dari karakteristik
pengemudi yang berbeda-beda sehingga arus lalu lintas tidak mempunyai sifat
kecepatan yag tunggal akan tetapi dalam bentuk distribusi kecepatan kendaraan
individual. Dari distribusi kecepatan kendaraan secara diskrit suatu nilai
rata–rata atau tipikal digunakan untuk mengidentifikasikan arus lalu lintas
secara menyeluruh.
Terdapat 3 jenis klasifikasi kecepatan
yang digunakan yaitu :
a. Kecepatan setempat (Spot Speed),
yaitu kecepatan kendaraan pada suatu saat diukur dari suatu tempat yang
ditentukan.
b. Kecepatan bergerak (Running Speed),
yaitu kecepatan kendaraan rata-rata pada suatu jalur pada saat kendaraan
bergerak (tidak termasuk waktu berhenti ) yang didapatkan dengan membagi
panjang jalur yang ditempuh dengan waktu kendaraan bergerak menempuh jalur
tersebut.
c. Kecepatan perjalanan (Jeourney Speed),
yaitu kecepatan efektif kendaraan yang sedang dalam perjalanan antara dua
tempat, yang merupakan jarak antara dua tempat dibagi dengan lama waktu bagi
kendaraan untuk menyelesaikan perjalanan antara dua tempat tersebut, dengan
lama waktu ini mencakup setiap waktu berhenti yang ditimbulkan oleh hambatan
lalu lintas.
Ada dua jenis
analisis kecepatan yang dipakai pada studi kecepatan arus lalu-lintas yaitu :
a. Time mean speed (TMS), yaitu rata-rata kecepatan dari
seluruh kendaraan yang melewati suatu titik pada jalan selama periode waktu
tertentu.
b. Space mean speed (SMS), yaitu rata-rata kecepatan
kendaraan yang menempati suatu segmen atau bagian jalan pada interval waktu
tertentu.
Perbedaan analisis
dari kedua jenis kecepatan di atas adalah bahwa TMS adalah pengukuran titik,
sementara SMS pengukuran berkenaan dengan panjang jalan atau lajur.
2.1.3. Kerapatan
Kerapatan adalah jumlah kendaraan yang
menempati suatu panjang jalan atau lajur dalam kendaraan per km atau kendaraan
per km per lajur. Nilai kerapatan dihitung berdasarkan nilai kecepatan dan
arus, karena sulit diukur dilapangan. Biasanya diperlukan titik ketinggian yang
cukup sehingga kendaraan dapat diamati dalam suatu ruas tertentu. Namun
demikian kepadatan dapat dihitung dari kecepatan dan volume, yang memunyai
bentuk hubungan seperti ditunjukkan pada rumus berikut.
F = S x D
Dengan,
F =
Arus lalu lintas (smp/jam atau kend/jam)
S =
kecepatan tengah berdasarkan ruang (km/jam)
D =
kepadatan (smp/km atau kend/km)
Adapun hubungan antara tiga variable
yang sudah dibahas yaitu;
1. Kecepatan dengan Kerapatan
2. Arus dengan Kecepatan
3. Arus dengan Kerapatan
Atau dapat ditunjukan seperti pada gambar dibawah ini.
|
Kesalahan! Nama file tidak
ditentukan.
|
Dari
kurva diatas terlihat bahwa;
Hubungan
antara kecepatan dan kerapatan menunjukan bahwa kecepatan akan menurun apabila
kerapatan bertambah, kecepatan arus bebas akan terjadi apabila kerapatan sama
dengan nol, dan pada saat kecepatan sama dengan nol maka terjadi kemacetan (jam
density)
Hubungan
mendasar antara arus dan kecepatannya adalah dengan bertambahnya volume lalu
lintas maka kecepatan rata-rata ruangannya tercapai. Setelah tercapai arus
maksimum maka kecepatan rata-rata ruang dan arus akan berkurang. Jadi kurva ini
menggambarkan dua kondisi yang berbeda dimana lengan atas untuk kondisi stabil
sedangkan lengan bawah menunjukan kondisi arus padat.
Hubungan
antara arus dan kerapatan memperlihatkan bahwa kerapatan akan bertambah apabila
volumenya juga bertambah. Volume maksimum terjadi pada saat kerapatan mencapai
titik Dm (kapasitas jalur jalan sudah tercapai). Setelah mencapai titik ini
volume akan menurun walaupun kerapatan bertambah sampai terjadi kemacetan di
titi Dj.
2.2. Tingkat Pelayanan
Tingkat
pelayanan (level of service) adalah ukuran kinerja ruas jalan
atau simpang jalan yang dihitung berdasarkan tingkat penggunaan jalan,
kecepatan, kepadatan dan hambatan yang terjadi. Dalam bentuk matematis tingkat
pelayanan jalan ditunjukkan dengan V-C Ratio versus kecepatan (V = volume lalu
lintas, C = kapasitas jalan).
2.21 Volume
Volume adalah jumlah kendaraan yang
melewati suatu titik atau segmen jalan selama selang waktu tertentu yang dapat
diekspresikan dalam tahunan, harian, jam-jaman atau sub jam. Volume lalu-lintas
yang diekspresikan dibawah satu jam (sub jam) seperti, 15 menitan dikenal
dengan istilah rate of flowatau nilai arus. Untuk mendapatkan nilai
arus suatu segmen jalan yang terdiri dari banyak tipe kendaraan maka semua
tipe-tipe kendaraan tersebut harus dikonversi ke dalam satuan mobil penumpang
(smp). Konversi kendaraan ke dalam smp diperlukan angka faktor ekivalen untuk
berbagai jenis kendaraan. Faktor ekivalen mobil penumpang (emp) ditabulasi pada
Tabel 1.
|
Tipe jalan tak
terbagi
|
Arus lalu lintas
|
Emp
|
|||
|
total dua arah
|
HV
|
MC
|
|||
|
(kendaraan/jam)
|
Lebar jalur
lalu-lintas
|
||||
|
< 6m
|
> 6m
|
||||
|
Dua lajur
tak-terbagi
|
0
|
1.3
|
0.5
|
0.4
|
|
|
(2/2 UD)
|
≥ 1800
|
1.2
|
0.35
|
0.25
|
|
|
Empat lajur
tak-terbagi
|
0
|
1.3
|
0.4
|
||
|
(4/2 UD)
|
≥ 3700
|
1.2
|
0.25
|
||
Namun demikian pengamatan lalu lintas
ini diharapkan selama 24 jam perhari yang biasanya untuk mengetahui terjadinya
volume jam puncak (VJP) sepanjang jam kerja baik itu pagi, siang maupun sore.
Biasanya volume jam puncak diukur untuk masing – masing arah secara terpisah.
VJP digunakan sebagai dasar untuk perancangan jalan raya dan berbagai macam
analisis operasional. Jalan raya harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu
melayani pada saat lalu lintas konsisi VJP. Untuk analisis operasional, apakah
itu terkait dengan pengendalian, keselamatan, kapasitas, maka jalan raya harus
mampu mengakomodasi kondisi ketika VJP. Di dalam perancangan VJP kadang –
kadang diestimasi dari proyeksi LHR sebagaimana ditunjukkan pada rumus :
VJRD = LHR x K x D
Dengan,
VJRD = Volume
rancangan berdasarkan arah (smp/hari)
LHR =
lalu lintas harian rata – rata (smp/hari)
K =
proporsi lalu lintas harian yang terjadi selama jam puncak
D =
proporsi lalu lintas jam puncak dalam suatu arah tertentu
Menurut McShane dan Roess (1990),
dalam kegunaan untuk perancangan nilai K sering dinyatakan dalam bentuk
proporsi LHR pada jam puncak tertinggi yang ke 30 selama satu tahun. Volume jam
puncak tertinggi yang ke 30 sering digunakan untuk perancangan dan analisis
pada jalan raya luar kota, namun demikian untuk jalan perkotaan digunakan
volume jam puncak tertinggi yang ke 50. Faktor D lebih bervariasi di mana
pembangkit lalu lintas utama pada suatu kawasan untuk kawasan perkotaan
misalnya nilai D berkisar antara 0,5 sampai 0,6.
2.22 Kapasitas
Kapasitas adalah arus lalu-lintas
maksimum yang dapat dipertahankan (tetap) pada suatu bagian jalan dalam kondisi
tertentu (misalnya: rencana geometrik, lingkungan, komposisi lalu-lintas dan
sebagainya. Catatan: Biasanya dinyatakan dalarn kend/jam atau smp/jam).
Kapasitas harian sebaiknya tidak digunakan sebagai ukuran karena akan
bervariasi sesuai dengan faktor-k.
Pengukuran kualitatif yang menyatakan
operasional lalu lintas dan pandangannya oleh pengemudi, dibutuhkan untuk
memperkirakan tingkat kemacetan pada fasilitas jalan raya. Pengukuran tingkat
pelayanan jalan didasarkan pada tingkat pelayanan dan dimaksudkan untuk
memperoleh faktor-faktor, yaitu; kecepatan, waktu perjalanan, kebebasan
bergerak dan keamanan. Tingkat pelayanan memiliki selang dari A sampai dengan
F. tingkat pelayanan A mewakili ondisi operasi pelayanan terbaik dan tingkat
pelayanan F mewakili operasi pelayanan terburuk.
2.23.1. Ukuran
Tingkat Pelayanan
Tingkat pelayanan suatu jalan
menunjukkan kualitas jalan diukur dari beberapa faktor yaitu :
Kesalahan! Nama file tidak ditentukan. Kecepatan dan waktu tempuh
Kesalahan! Nama file tidak ditentukan. Kerapatan (density)
Kesalahan! Nama file tidak ditentukan. Tundaan (delay)
Kesalahan! Nama file tidak ditentukan. Arus lalu lintas dan arus jenuh (saturation
flow)
Kesalahan! Nama file tidak ditentukan. Derajat kejenuhan (degree of
saturation)
2.23.2. Klasifikasi
Tingkat Pelayanan
Berkaitan dengan kecepatan operasi
atau fasilitas jalan yang tergantung pada perbandingan antara arus terhadap
kapasitas. Dipakai oleh HCM. Tingkat pelayanan ditentukan dalam suatu skala
yang terdiri dari enam tingkat pada kisaran A sampai dengan F. Oglesby (1990)
menerangkan bahwa kondisi operasi dari berbagai tingkat pelayanan jalan adalah
sebagai berikut:
a. Tingkat pelayanan A (Free Flow)
LOS A mewakili free flow. Pengguna
jalan tidak dipengaruhi oleh keberadaan variable lain dalam arus lalu lintas.
Kebebasan memilih kecepatan yang diinginkan dan kebebasan bergerak dalam arus
lalu lintas yang sangata besar. Tingkat kenyamanan dan keandalan secara umu
yang dibutuhkan oleh pengendara atau penumpang sangat baik. Tingkat pelayanan A
dapat dikondisikan seperti :
1. arus bebas dengan volume lalu lintas
rendah dan kecepatan tinggi;
2. kepadatan lalu lintas sangat rendah
dengan kecepatan yang dapat dikendalikan oleh pengemudi berdasarkan batasan
kecepatan maksimum/minimum dan kondisi fisik jalan;
3. pengemudi dapat mempertahankan
kecepatan yang diinginkannya tanpa atau dengan sedikit tundaan.
b. Tingkat Pelayanan B (Stable Flow –
Rural Road Design)
LOS B berada dalam
selang arus stabil, tetapi keberadaan pengguna laindalam arus lalu lintas mulai
terasa. Kebebasan memilih kecepatan yang diinginkan relative terpengaruh,
tetapi terdapat sedikit penurunan dalam kebebasan bergerak dalam arus lalu
lintas dibandingkan LOS A. tingkat kenyamanan dan keandalan jga agak kurang
dari pada LOS karena keberadaan variable lain dalam arus lalu lintas
mulai mempengaruhi keberadaan individu. Tingkat pelayanan A dapat dikondisikan
seperti :
1. arus stabil dengan volume lalu lintas
sedang dan kecepatan mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas;
2. kepadatan lalu lintas rendah hambatan internal
lalu lintas belum memengaruhi kecepatan;
3. pengemudi masih punya cukup kebebasan
untuk memilih kecepatannya dan lajur jalan yang digunakan.
c. Tingkat pelayanan C (Stable Flow –
Urban Road Design)
LOS C berada dalam
selang arus stabil, tetapi ditandai dengan awal operasi pengguna individu yang
dipengaruhi oleh interaksi lain dalam arus lalu lintas. Pemilihan kecepatan
bergerak dalam arus lalu lintas memerlukan kewaspadaan masung –masing pengguna.
Tingkat kenyamanan dan keandalan umumnya menurun pada LOS C. Tingkat pelayanan
C dapat dikondisikan seperti:
1. arus stabil tetapi kecepatan dan
pergerakan kendaraan dikendalikan oleh volume lalu lintas yang lebih tinggi;
2. kepadatan lalu lintas sedang karena
hambatan internal lalu lintas meningkat;
3. pengemudi memiliki keterbatasan untuk
memilih kecepatan, pindah lajur atau mendahului.
d. Tingkat pelayanan D (Approach
Unstable Flow)
LOS D mewakili
kepadatan tinggi, tetapi arus stabil. Kecepatan dan kebebasan bergerak terbatas
secara acak dan pengalaman pengemudi umumnya mewakili tingkat kenyamanan dan
keandalan yang buruk. Sedikit penambahan arus lalu lintas umumnya menyebabkan
masalah operasional pada LOS D. Tingkat pelayanan D dapat dikondisikan seperti
:
1. arus mendekati tidak stabil dengan
volume lalu lintas tinggi dan kecepatan masih ditolerir namun sangat
terpengaruh oleh perubahan kondisi arus;
2. kepadatan lalu lintas sedang namun
fluktuasi volume lalu lintas dan hambatan temporer dapat menyebabkan penurunan
kecepatan yang besar;
3. pengemudi memiliki kebebasan yang
sangat terbatas dalam menjalankan kendaraan, kenyamanan rendah, tetapi kondisi
ini masih dapat ditolerir untuk waktu yang singkat.
e. Tingkat pelayanan E (Unstable Flow
– Some Stops and Starts)
LOS E mewakili
kondisi opera sinal pada atau dekat dengan tingkat kapasitas. Semua kecepatan
menurun ke nilai yang kecil, tetapi relative seragam. Kebebasan bergerak dalam
lalu lintas sangat sulit dan secara umum untuk melakukan pergerakan kendaraan
dilakukan dengan cara memaksa kendaraan lain member jalan untuk pergerakan
kendaraan. Tingkat kenyamanan dan keandalan sangat buruk sehingga jumlah
pengemudi yang frustasi umumnya tinggi. Operasional LOS E biasanya tidak
stabil, karena sedikit peningkatan arus atau gangguan kecil dalam arus
menyebabkan gangguan pada arus secara keseluruhan. Tingkat pelayanan E dapat
dikondisikan seperti :
1. arus lebih rendah daripada tingkat
pelayanan D dengan volume lalu lintas mendekati kapasitas jalan dan kecepatan
sangat rendah;
2. kepadatan lalu lintas tinggi karena
hambatan internal lalu lintas tinggi;
3. pengemudi mulai merasakan
kemacetan-kemacetan durasi pendek.
f. Tingkat pelayanan F (Forced Flow –
Stops, Queues, Jams)
LOS
F digunakan untuk mendefinisikan arus lalu lintas yang dipaksakan atau buruk.
Kondisi LOS Fterjadi jika jumlah lalu lintas menuju suatu titik nilai tertentu
yang dapat menghentikan arus lalu lintas.
|
V/C RASIO
|
Tingkat Pelayanan
|
Keterangan
|
|
jalan
|
||
|
< 0.60
|
A
|
Arus lancar, volume rendah, kecepatan
|
|
tinggi
|
||
|
0.60 - 0.70
|
B
|
Arus stabil, kecepatan terbatas, volume
|
|
sesuai untuk jalan luar kota
|
||
|
0.70 - 0.80
|
C
|
Arus stabil, kecepatan dipengaruhi oleh
|
|
lalu lintas, volume sesuai untuk jalan kota
|
||
|
0.80 - 0.90
|
D
|
mendekati arus tidak stabil, kecepatan
|
|
rendah
|
||
|
0.90 - 1.00
|
E
|
Arus tidak stabil, kecepatan rendah,
|
|
volume padat atau mendekati kapasitas
|
||
|
> 1.00
|
F
|
Arus yang terhambat, kecepatan rendah,
|
|
volume diatas kapasitas, banyak berhenti
|
2.3. Metode
Analisis Simpang Bersinyal
Simpang adalah suatu area kritis pada
suatu jalan raya yang merupakan titik konflik dan tempat kemacetan karena
bertemunya dua ruas jalan atau lebih (Pignataro, 1973). Karena merupakan tempat
terjadinya konflik dan kemacetan maka hampir semua simpang terutama di
perkotaan membutuhkan pengaturan. Untuk menganalisis simpang bersinyal ada
beberapa cara yaitu salah satunya metode akcelik dan sidra.
2.3.1. Metode akcelik
Metode hasil
pengembangan lebih lanjut dari Rahmi Akcelik, sebenarnya didasarkan pada
kerangka dasar desain terdahulu (Miller 1968b; Webster and Cobbe 1966). Akcelik
mengubah teknik tradisional yang didasarkan atas metode phase-related kepada
pendekatan movement-related. Salah satu aspek penting di sini,
adalah penggunaan konsep movement lost time, sebagai
pengganti phase lost time. Juga penerapan waktu hilang
persimpangan (intersection lost time), yang didefinisikan sebagai jumlah
waktu hilang pergerakan kritis, mengganti konsep jumlah waktu hilang seluruh
fase. Pendekatan baru ini membuat pengertian lebih jelas atas hubungan
pergerakan dan karakteristik fase sinyal serta memungkinkan penanganan terhadap
sistem sinyal yang kompleks dengan multi-fase.
Menurut Akcelik,
setiap antrian yang terpisah (separate queue) yang sedang menuju
persimpangan, lalu diklasifikasi berdasarkan arah, penggunaan lajur dan
penyediaan hak berjalan melintasi persimpangan, dikategorikan sebagai suatu
pergerakan (movement). Dan pengalokasian hak berjalan bagi pergerakan
individual ditentukan berdasarkan pengaturan fase sinyal. Pergerakan dari
masing-masing pendekat didasarkan atas hak berjalan tersendiri (pengaturan
fase) dan alokasi lajur dengan karakteristik penggunaannya. Ini berarti bahwa
setiap pergerakan memiliki karakteristik pengaturan sinyal tersendiri, berikut
lajur menunggu maupun keluar untuk meninggalkan persimpangan.
2.3.2. Metode
Sidra
Sidra Intersection (sebelumnya disebut
Sidra dan aaSIDRA) adalah paket perangkat lunak yang digunakan untuk
persimpangan (junction) kapasitas, tingkat layanan dan analisis kinerja oleh
lalu lintas desain, operasi dan profesional perencanaan. Pertama kali dirilis
pada tahun 1984, telah dalam pembangunan berkelanjutan dalam menanggapi umpan
balik pengguna. Sebuah versi dengan kemampuan jaringan pemodelan saat ini
sedang dalam pembangunan.
Sidra Persimpangan merupakan alat
evaluasi lalu lintas mikro-analitis yang menggunakan jalur-by-jalur dan model
kendaraan berkendara siklus. Hal ini dapat digunakan untuk membandingkan
pengobatan alternatif yang melibatkan persimpangan bersinyal, bundaran (tanpa
lampu), bundaran dengan sinyal metering, dua arah berhenti dan memberikan arah
(yield) Kontrol tanda, semua arah (4-way dan 3-way) menghentikan kontrol tanda,
penggabungan, single-titik susun perkotaan, segmen jalan bebas hambatan dasar
dan bersinyal dan penyeberangan tengah-tengah blok tanpa lampu lalu lintas
untuk pejalan kaki.
Di Australia dan Selandia Baru, Sidra
temu didukung oleh Austroads. Di Amerika Serikat, Sidra temu diakui oleh US
Manual Kapasitas Jalan TRB / FHWA 2010 Panduan Roundabout (NCHRP Laporkan 672)
dan berbagai panduan bundaran lokal.
3.1. Kesimpulan
Karakteristik dasar lalu lintas
merupakan unsur pembentuk aliran lalu lintas mempunyai pola hubungan yang dapat
diuraikan sebagai berikut;
Hubungan
antara kecepatan dan kerapatan menunjukan bahwa kecepatan akan menurun apabila
kerapatan bertambah, kecepatan arus bebas akan terjadi apabila kerapatan sama
dengan nol, dan pada saat kecepatan sama dengan nol maka terjadi
kemacetan (jam density)
Hubungan
mendasar antara arus dan kecepatannya adalah dengan bertambahnya volume lalu
lintas maka kecepatan rata-rata ruangannya tercapai. Setelah tercapai arus
maksimum maka kecepatan rata-rata ruang dan arus akan berkurang. Jadi kurva ini
menggambarkan dua kondisi yang berbeda dimana lengan atas untuk kondisi stabil
sedangkan lengan bawah menunjukan kondisi arus padat.
Hubungan antara arus
dan kerapatan memperlihatkan bahwa kerapatan akan bertambah apabila volumenya
juga bertambah. Volume maksimum terjadi pada saat kerapatan mencapai titik Dm
(kapasitas jalur jalan sudah tercapai). Setelah mencapai titik ini volume akan
menurun walaupun kerapatan bertambah sampai terjadi kemacetan di titi Dj.
Hubungan antara volume dan kapasitas
yaitu ketika kapasitas semakin besar maka volume yang dapat ditampung akan
semakin besar pula. Ketika volume terlalu besar dan kapasitas jalan tidak
sanggup untuk menampung jumlah kendaraan maka akan terjadi over load pada jalan
dan bisa mengakibatkan terjadinya kemacetan (jam density).
Metode analisis
akcelik mengubah teknik tradisional yang didasarkan atas metode phase-relatedkepada
pendekatan movement-related. Salah satu aspek penting adalah
penggunaan konsep movement lost time, sebagai pengganti phase
lost time. Juga penerapan waktu hilang persimpangan (intersection
lost time), yang didefinisikan sebagai jumlah waktu hilang pergerakan
kritis, mengganti konsep jumlah waktu hilang seluruh fase. Pendekatan baru ini
membuat pengertian lebih jelas atas hubungan pergerakan dan karakteristik fase
sinyal serta memungkinkan penanganan terhadap sistem sinyal yang kompleks
dengan multi-fase.
Sidra Intersection (sebelumnya disebut
Sidra dan aaSIDRA) adalah paket perangkat lunak yang digunakan untuk
persimpangan (junction) kapasitas, tingkat layanan dan analisis kinerja oleh
lalu lintas desain, operasi dan profesional perencanaan.
Permasalahan lalu lintas adalah
perihal yang akan selalu dimintakan upaya untuk pembenahan terhadapnya. Dalam
upaya mengatasi masalah lalu lintas tersebut dibutuhkan perencanaan yang matang
agar ketika kebijakan atau hasil rencana tersebut diaplikasikan ke dalam
kenyataan hal itu benar-benar memberikan manfaat dan solusi atas permasalahan
yang terjadi di lapangan.
Komentar
Posting Komentar